HIKMAH ISRA MI’RAJ NABI MUHAMMAD SAW

bojonggenteng.desa.id – BOJONGGENTENG, Jum’at 26 April 2019-mulai jam 19.30 WIB. Pemdes Bojonggenteng Kec. Jampangkulon Menggelar Peringatan Isra Mi’raj Nabi Muhammad SAW bertempat di Halaman Kantor Desa Bojonggenteng.
Dengan mengusung Tema “Melalui Hikmah Isra Mi’raj Nabi Muhammad SAW Kita Pererat Tali Persaudaraan Pasca Pesta Demokrasi 2019 serta Dalam Menyambut Bulan Suci Ramadhan 1440 H.”

Acara tersebut dihadiri oleh Warga Desa Bojonggenteng dari 14 ke-RT-an serta para Tamu undangan termasuk Muspika Jampangkulon yang diwakili oleh Sekmat Ahmad Juaeni, S.Ag.
Diawali dengan menampilkan Qosidah ibu-ibu PKK Desa Bojonggenteng, Qori Ust. Suryaman dan tausyiah diisi oleh K.H. Parijudin.

Sekmat Jampangkulon, dalam sambutannya mengatakan, peringatan Isra Mi’raj diharapkan dapat menjadi sarana memperkuat ukhuwah di antara ulama (tokoh agama), umaroh (pemerintah) dan umat (masyarakat) serta dijadikan sarana untuk kembali bersatu dan mempererat tali silaturahmi pasca Pemilu 2019 dan dapat menerima apapun hasilnya dan siapapun pemimpinnya.

“Mari kita jadikan peringatan Isra Mi’raj ini sebagai sarana memperkuat ukhuwah antara ulama, umaroh dan umat setelah kita melaksanakan pesta demokrasi Pemilu 2019 pada 17 April lalu,” ajaknya.

Dalam ceramahnya K.H. Parijudin. menyampaikan bahwa, peristiwa Isra’ Mi’raj Nabi Muhammad Sallallahu ‘alaihi Wassalam (SAW), diambil dari dua buah kata yang penuh arti yaitu Isra’ yang berarti “perjalanan malam” dan Mi’raj yang berarti “naik ke langit”. Perjalanan malam yang dimaksud adalah perjalanan dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa. Dari peristiwa Isra’ Mi’raj inilah umat Islam di seluruh dunia mengenal yang namanya sholat dan diwajibkan untuk melakukan sholat lima waktu dalam sehari semalam.

Peristiwa Isra’ Mi’raj terjadi tepat pada tahun 621 Masehi, tepatnya pada tanggal 27 Rajab (3 tahun sebelum hijrahnya Nabi). Nabi Muhammad SAW waktu itu sudah berumur 51 tahun dan peristiwa Isra’ Mi’raj terjadi saat tengah malam hingga subuh waktu Mekkah. Peristiwa ini terjadi karena Nabi Muhammad SAW yang sedang dalam keadaan duka. Beliau telah ditinggal mati oleh dua orang yang dicintnyai yaitu Khadijah sang istri dan Abu Thalib sang paman. Saat itu, Nabi Muhammad SAW mengalami duka yang sangat dalam sehingga untuk menghibur Nabi Muhammad SAW, Allah SWT mengajak Nabi Muhammad SAW ke suatu perjalanan hingga sampai ke Sidrotulmuntaha untuk bertemu dengan-Nya.

K.H. Parijudin, juga menjelaskan bahwa awal Peristiwa Isra’ Mi’raj Nabi Muhammad SAW, dimulai pada tanggal 27 Rajab. Saat itu Allah SWT mengutus Malaikat Jibril A.S. untuk pergi ke Syurga dan mengambil Buraq. Setelah itu Malaikat Jibril A.S diutus untuk pergi ke tempat Nabi Muhammad SAW. Hari sudah malam dan pada waktu Malaikat Jibril A.S. datang ke hadapan Nabi Muhammad SAW, beliau tengah tertidur. Nabi Muhammad tiba-tiba terbangun dari tidurnya karena mendengar suara dan saat beliau terbangun dihadapannya sudah berdiri tiga orang laki-laki yang rupanya adalah Malaikat Jibril dan Malaikat Mika’il serta seorang Malaikat lain.

Diakhir ceramahnya K.H. Parijudin. menyampaikan bahwa, peringatan Isra’ dapat diartikan bahwa, hubungan antara manusia dengan manusia seperti hubungan Pemerintah dengan masyarakat harus semakin erat untuk memperkuat Pemerintahan agar tetap kuat. Sedangkan Mi’raj yaitu hubungan manusia dengan Allah SWT untuk meningkatkan keimanan dan ketaqwaan yang hakiki. (Drag & DK)

Facebook Comments
About bojonggenteng 68 Articles
Salah satu desa di kecamatan jampangkulon sukabumi

Jadi yang Pertama Berkomentar

Tinggalkan Balasan